Kita tentunya sudah sangat familiar dengan brosur. Kita mungkin sudah sering mendapatkan alat pemasaran ini dari perusahaan-perusahaan yang berusaha menjual produknya. Dikota-kota besar sering kita temui para salesman motor dipinggir jalan melambai-lambaikan brosur dan flayer kepada anda. Atau para penjual mobil di mall-mall yang memberikannya secara cuma. Bahkan dibagikan saat anda sedang menunggu lampu merah berubah hijau di persimpangan jalan.

Isinya sangat beragam, mulai dari informasi tentang produk yang dijual hingga tambahan price list yang diklip bersamanya. Namun demikian, lembaran kertas ini tidak sedikit pada akhirnya dibuang penerimanya dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah, informasi yang diberikan tidak tersampaikan dengan baik secara konten, maupun secara desain.

Dalam membuat alat untuk pemasaran ini, desain berperan sangat penting. Desain yang baik dapat memotivasi penerimanya untuk membaca informasi yang diberikan didalamnya secara keseluruhan, sebaliknya desain yang buruk bisa menyebabkan brosur anda berakhir di tong sampah dalam sekejap.

Trus gimana dong bikin desain brosur yang bagus?

Karena alat pemasaran ini biasanya dibuat dalam display lembaran yang kecil, banyak orang menyepelekan pembuatannya. Banyak orang yang mengklaim bisa membuat sendiri desain brosurnya tanpa menggunakan bantuan desain profesional. Syukurlah jika pada akhirnya lahir desain yang berhasil memikat pembacanya, tapi tidak sedikit pula yang gagal karena tidak mikirin hal-hal penting seperti yang akan kita bahas ini.

1. Sebelum mulai ngedesain brosur

Bikin brosur bukan cuma soal menggabungkan antara layout dan tulisan dalam hamparan kertas yang bakalan kamu desain. Tapi lagi-lagi pengetahuan mendalam soal brand hingga output yang ingin kamu capailah yang justru akan mempengaruhi desain yang akan kamu buat. Sebelum kami menggoyangkan mouse kamu untuk melayout, yuk kita lakukan senam otak untuk dapat informasi seputar hal-hal berikut

A. Kenali betul branding perusahaan yang kamu beri servis

Kebayangkan kalo kamu mau ngedesain brosur untuk bank mandiri, tapi justru kamu kasi warna kombinasi antara putih dan orange. Atau kamu mau membuat desain brosur untuk Honda tapi malah kamu kasi dominan biru. Kelar pastinya urusan sama klien itu dalam satu presentasi saja.

Jangan ngasal! Branding adalah identitas personal atau yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang meliputi banyak hal seperti skema warna, typography yang digunakan, komposisi layout yang biasa digunakan dan banyak hal yang perlu kamu cari tau lebih banyak sebelum mulai mendesain.

B. Tentukan desain brosur kamu akan dipake oleh siapa

Setiap pasar punya karakternya masing-masing. Dalam satu grup pasar, terdapat garis merah yang bisa memberikan kita insight bagaimana desain yang akan kita buat nantinya. Desain yang berbeda akan muncul antara calon kostumer yang masih SMA dengan para karyawan pabrik berumur 30an keatas. Atau antara anak metal dengan anak dugem yang memiliki preseferensi desain yang cukup berbeda. Sehingga mengetahui betul siapa calon pembaca brosur kita sangat krusial dalam memberi masukan desain seperti apa yang harus kita buat.

C. Bahasa yang tepat

Bahasa yang pas bukan hanya berkaitan dengan bagaimana rangkaian kata yang disusun dalam desain yang kita buat. Namun representasi dari kostumer yang ingin kita dapatkan melalui bahasa gambar juga menentukan seberapa baik desain yang kita buat.

Brosur yang ditargetkan untuk ibu-ibu pengajian tentunya tidak pantas menggunakan kata-kata yang tidak sesuai dengan bahasa-bahasa anak punk. Demikian pula pemilihan gambar untuk calon pembeli rumah yang mencari kredit di bank tertentu tidak cocok diberi gambar orang sedang balapan motor.

D. Tetapkan output dari desain yang akan kita buat

  • Apakah kita ingin mengarahkan orang untuk datang ke toko kita?
  • Apakah kita ingin mereka membuka instagram kita?
  • Apakah kita ingin mereka menelepon CS perusahaan kita untuk mengetahui informasi yang mendetail tentang produk kita?

Menetapkan tujuan dari desain yang kita buat memberikan masukan penting tentang apa yang harus kita tekankan didalamnya. Desain yang tidak berguna (sungguh tega) meskipun dibikin satu persatu dengan menggunakan metoda pointilism dan dicetak dikertas emas tapi kemudian tidak memicu pembacanya melakukan sesuatu yang kita inginkan.

E. Punya duit berapa bang?

Nah yang ini lebih teknis. Mau dicetak berapa banyak? Pake kertas apa? Pake tinta apa? mau ada embossan atau pake foil emas segala? Semuanya tergantung budget yang anda atau klien punya. Meski demikian lagi-lagi semuanya tergantung ini desain buat siapa.

Perlu ga kita pake kertas yang tebal untuk desain brosur yang disposable setelah pesan yang disampaikan berhasil diterima oleh kostumer. Setelah dia photoin QR code yang ada dibrosur itu, semua info bisa mereka dapatkan via mobilenya. Atau tentunya krusial penggunaan mesin cetak dan tinta yang berkualitas jika image yang anda tampilkan akan memotivasi kostumer untuk mencobanya, misalnya photo minuman manis untuk berbuka puasa dengan bulir-bulir es digelasnya.

Itulah yang perlu kita pikirkan, dalami dan resapi sebelum membuat sebuah desain yang brosur. Setelah kita mengetahui apa saja yang perlu kita pertimbangkan sebelum mendesainnya, selanjutkan ga kalah pentingnya saat mendesain. Apa saja yang perlu kita perhatikan dalam mendesain brosur, tunggu artikel selanjutnya.

Verdant.id Cilukba Architecture